Empathy : How It Can Negates Annoyance

1 Comment

Berhubung ‘cerita’ kali ini (menurut¬† saya) lebih relevan dengan kondisi lingkungan di Indonesia, khusunya daerah Jabodetabek, maka entry kali ini ditulis dalam bahasa Indonesia.

Suatu kali Chris dan Duchess of Clutter (quite obvious, ini adalah nama yg disamarkan. Untuk kedepannya akan disingkat sebagai DoC) sedang menikmati makan malam di sebuah restoran yang lokasinya cuku ‘ terbuka’. Saat lagi seru-serunya makan, datanglah seorang pengamen menyanyikan suatu lagu yang sepertinya hasil karangan sendiri dengan lirik yang cukup menarik namun sayangnya tidak diiringi dengan susunan nada yang catchy. Suara si pengamen yang menyanyikannya pun sayangnya tidak banyak membatu untuk mebuatnya terdengar lebih baik.

DoC : “Nah paling sebel nih kalo makan di tempat kaya’ gini. Banyak yang ngamen lah, minta-minta lah…”

Chris : “Hahaha, bagus donk. Di restoran besar aja belom tentu ada live music. Kalo ada pun biasanya cuma weekend, nah ini malem Rabu gini ada live music.”

DoC : “Hahaha, dasar. Tapi beneran deh ini tuh ganggu banget orang lagi makan. Jadi ga nyaman.”

Chris : “Yaudah kalo gitu kasih aja recehan berapa lah gitu, biasanya kalo abis dikasih dia ga akan lama-lama koq. Kecuali emang demen nyanyi berharap ada produser rekaman yang mau ngorbit hahaha.”

DoC : “Yah ribet, lagi makan, tangan kotor susah nyari-nyari recehan lagi di dompet.”

Chris : “Ya udah kalo gitu diemin aja, lanjutn makan aja.”

DoC : “Iya. Yah gini nih ga enaknya makan di tempat begini. Banyak pengamen, mereka tuh bikin ga nyaman yang makan aja. Dikasih satu ntar dateng lag ynag laen. Huh!”

Chris : “Hahaha, don’t be so rude. Gini deh mikirnya. Kalo kamu yang cuma duduk disini sambil makan aja sambil denger dia ngamen merasa ga nyaman…, bayangin deh gimana ga nyaman-nya da yang harus ngamen.”

DoC : “Nah kalo gitu ga usah ngamen aja dia harusnya.”

Chris : *slip up a little smile* “Mungkin dia juga kalo bisa sebenernya ga mau ngamen begini. Tapi bairpun begitu dia tetap ngamen. jadi artinya apa tuh?”

DoC : “Apa?”

Chris : “Artinya whether dia ngamen atau ga, buat kita dan dia sama-sama soal MAKAN. Bedanya adalah kalo buat kita whether dia ngamen atau ga adalah soal kita bakal akan sedikit terganggu waktu MAKAN atau ga. Sedangkan buat dia, whether dia ngamen atau ga, adalah soal dia bakal punya uang buat MAKAN atau ga.”

DoC : “………..”

Chris : “Don’t give me that weird stare, carry on with your dinner.”

Advertisements

Designed To Be Incompatible(?)

Leave a comment

Akhirnya, sebuah post dalam bahasa Indonesia lagi! Yah, tapi untuk judul tetap diseragamkan dengan sesama judul lainnya yaitu dalam bahasa Inggris…

Okay first of all, ada yang sudah menebak kira-kira yang gw katakan “designed to be incompatible” itu tentang apa (hint : category dari post ini). Yup! Yang gw maksud adalah tentang pendidikan.

Kenapa gw bilang sistem pendidikan kita designed to be incompatible? Tentunya perlu ada penjelasan tentang pendapat gw yang sangat kontroversial ini kan? Okay, keep your mind open and we’ll get to it soon.

Ingatkah kawan-kawan sekalian saat kita masih kecil — sebelum usia sekolah. Kita merupakan sosok-sosok yang sangat adventurous, senang mempelajari hal-hal baru, dan memiliki curiosity level yang tinggi. orang tua, dan orang-orang di sekitar kita senang melihat sifat kita yang demikian karena menurut mereka itu lucu, dan kalaupun sifat tersebut membuat kita melakukan tindakan-tindakan yang “nyeleneh” kita seringkali masih tetap dimaklumi karena kita masih kecil. Kemudian tibalah saatnya untuk masuk sekolah dan “peraturan mulai berubah”, masyarakat tidak lagi mengakomodasi curiosity kita ataupun mendukung jiwa adventurous kita. Suddenly, nilai tertinggi yang diterapkan pada kita adalah kepatuhan. Tidak boleh keluar dari barisan, harus pakai seragam, kalau mau apa-apa lapor sama guru, dsb.

Kebebasan kita untuk memiliki pemikiran sendiri pun mulai berkurang secara pesat, sebagai contoh : pasti guru dan orang tua kita menyalahkan kita bila kita menggambar gunung dan mewarnainya dengan warna putih kekuningan, “gunung itu hijau nak, yang beneran adanya begitu!” kata ibu (meskipun kalu dilihat-lihat lagi belum tentu benar demikian adanya, apalagi bila yang ingin kita gambar adalah gunung kapur). Dimulailah belasan tahun “penjajahan” pola pikir dimana pandangan dan pendapat kita dibentuk (atau bila tidak sepenuhnya dibentuk at least dipengaruhi) oleh authority figure (khususnya guru dan orang tua kita).

Mau mencoba hal baru dan menyalurkan kreativitas kita? Tentu saja boleh, tapi hati-hati bila tidak sesuai dengan “selera” para authority figures bisa-bisa malah diganjar nilai jelek atau bahkan hukuman. Awalnya kita mungkin berpikir “ah, nilai tidak begitu penting, itu kan hanya angka” dan “dihukum ga masalah deh, ga parah-parah amat juga hukumannya”, tapi kemarahan orang tua, cemoohan teman-teman, dan pandangan meremehkan dari masyarakat ketika kita dapat nilai jelek atau sering mendapat hukuman membuat kita berpikir ulang sebelum “bereksperimen. Perlahan-lahan kita menjadi takut untuk mencoba hal yang baru dan puas hanya dengan stay in the comfort zone.

Tentu saja hal ini tidak sepenuhnya buruk, banyak hal yang disampaikan melalui pembentukan pola pikir oleh authority figures ini yang memperluas wawasan kita. Dan keteraturan dan kepatuhan yang selalu dituntut dari kita oleh para authority figures ini juga bukan hal yang buruk. Namun efek samping dari sistem pendidikan seperti ini menjadikan kita too boxed in, dan hal inilah yang ingin gw soroti.

Setelah belasan tahun berada dalam sistem seperti yang gw jabarkan diatas,¬† tibalah saatnya untuk memasuki dunia kerja. Dan pada saat kita mulai mencari pekerjaan atau berusaha menaiki tangga karir di pekerjaan kita, kita pun mulai melihat “ada yang salah nih”. Yang banyak dicari dan bisa sukses adalah orang yang kreatif, bisa berpikir out of the box, terbuka terhadap hal-hal baru, mudah beradaptasi pada perubahan. Padahal belasan tahun pendidikan kita justru menempatkan kita pada keseragaman pola pikir dan keteraturan, mendorong kita untuk tetap berada di dalam comfort zone dan jangan sering mencoba-coba hal yang tidak pasti.

Setahu saya, pendidikan yang kita terima selama bertahun-tahun itu salah satu tujuannya adalah untuk mempersiapkan kita dalam menghadapi dunia kerja. Tapi, melihat pembahasan ada paragraf-paragraf di atas, koq yang dihasilkan dari sistem pendidikan tersebut malah kebalikannya dari apa yang diperlukan dalam dunia kerja?¬† Apakah memang sistem pendidikan kita “designed to be incompatible“? Pasti kawan-kawan pernah mendengar anekdot seperti berikut : yang nilainya paling bagus jadi dosen, yang nilainya sedang-sedang saja jadi karyawan, dan yang nilainya paling jelek justru jadi seorang bos atau pengusaha sukses. Mungkin anekdot tersebut dimulai dari sekadar justifikasi seorang yang nilainya jelek, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa kejadian nyata cukup banyak kasus seperti dalam anekdot tersebut. Karena sampai sekarang nilai masih digunakan sebagai satuan yang DIANGGAP paling representatif dalam menunjukkan ompetensi seseorag dalam bidang pendidikan, bukankah kasus seperti anekdot tersebut merupakan suatu symptom bahwa “ada yang salah” dalam sistem pendidikan kita? Atau memang (gw ulang lagi pertanyaannya) sistem ini “designed to be incompatible“?

Bonus Cerita : (Ini hanya fiksi belaka, kesamaan nama karakter dan tempat merupakan sama sekali idak disengaja)

Fauntleroy, seorang pemuda yang rajin dan dulinya merupakan murid teladan, selalu mendapat nilai yang bagus, tidak pernah di-skors, penurut, disayangi guru, dan tidak pernah mencoba yang aneh-aneh. Banyak orang mengira dia akan menjadi orang yang sangat sangat sukses. Tapi nyatanya sekarang dia adalah seorang dengan dead-end job dan tidak bahagia, padahal dia telah mengaplikasikan hal-hal yang telah ia pelajari ke dalam kehidupan profesional-nya. Ia pun berpikir “koq bisa begini? pasti ada yang salah deh. Apa ada hal yang gw miss ya waktu dulu belajar di SMA atau kuliah?” Maka Fauntleroy pun mengingat-ingat benang merah dari pengalaman-pengalamannya belajar selama belasan tahun…..

Guru Fisikanya waktu dia sekolah dulu sering bercerita tentang Thomas A. Edison yang harus gagal berkali-kali dalam membuat bohlam. Namun ketika dia melakukan SATU kali kesalahan menyambung kabel ketika praktikum Fisika sehingga menyebabkan korslet listrik di Lab, gurunya tersebut marah-marah luar biasa.

Ibu Fauntleroy sangat mengagumi Ian Thorpe dan Usain Bolt, “mereka atlit yang hebat! Kamu harus jadikan mereka contoh!”. Tapi justru Ibunya lah yang menyuruh Fauntleroy berhenti dari ekskul basket yang diikutinya, yang merupakan satu-satunya kesempatan bagi Fauntleroy untuk berolahraga secara rutin agar Fauntleroy bisa belajar lebih banyak sehingga nilainya bagus.

Dosen Fauntleroy yang selalu mengingatkannya akan pentingnya bersikap jujur dan menghindari kecurangan akademis, mengakui hasil penelitian mahasiswanya sebagai miliknya, dan dengan sedikit modifikasi mengirimkannya sebagai jurnal akademis karyanya.

Fauntleroy pun merenung, dia melihat bahwa benang merah dari banyak hal yang diajarkan kepadanya adalah KONTROVERSI, dan tentu saja sebagai seorang pelajar yang baik Fauntleroy mengaplikasikannya ke dalam kehidupannya. Ia pun mencalonkan diri menjadi pejabat daerah dan melalui apa yang dia pelajari dalam Sosiologi, PPKn, dan Bahasa Indonesia, dia berhasil mendapat jabatan yang cukup tinggi. Lalu untuk soal KONTROVERSI, ia tentunya tidak lupa mengaplikasikannya yaitu dengan sering berpidato tentang kesejahteraan masyarakat dan moral namun melakukan korupsi di belakangnya. Sebuah bentuk KONTROVERSI yang jelas bukan? Fauntleroy pun memiliki karir yang baik dan sangat “menghasilkan” sekarang dan dia bahagia. Semuanya tentu saja karena ia telah berhasil mengaplikasikan apa yang telah diajarkan padanya selama belasan tahun : KONTROVERSI.